About This Blog

Our Blogger Templates Web Design

Pink Diamond
RSS

Arab, Kehidupan dan Masyarakatnya

Arab, Kehidupan dan Masyarakatnya

Oleh : Ririn Widiyastuti
Sastra Arab, Universitas Al-Azhar Indonesia

Abstrak
Saat ini, Arab adalah suatu rumpun bangsa yang diperhitungkan dalam percaturan politik dan ekonomi dunia. Tempat tinggal masyarakat keturunan bangsa semit ini bertransformasi secara tajam dari awalnya hanya hamparan gurun pasir yang luas, kini menjadi kota-kota metropolitan yang modern dan canggih sebagaimana kota-kota di Eropa dan Amerika. Pun dengan masyarakatnya. Dalam tulisan ini akan dipaparkan gambaran Arab secara umum dari zaman jahiliyah hingga modern.
Keyword : Arab, jahiliyah, modern.
A.    Pendahuluan
Transisi peradaban sebuah bangsa dari zaman kuno atau klasik hingga modern adalah bahan kajian yang menarik sebagai materi pembuka sebelum masuk pada pembahasan pranata dan budayanya. Salah satu rumpun bangsa yang menarik untuk dikaji adalah Arab. Arab, sebagai salah satu peradaban manusia paling kuno, ia menyimpan segala keistimewaan dan ke-khas-an tersendiri. Mulai dari kondisi alam, masyarakat, budaya dan sumber daya alamnya hingga ketatanegaraannya.
Bangsa yang pernah memayungi dua pertiga dunia dengan kekayaan budaya, agama dan khazanah keilmuwan ini adalah penyumbang terbesar dalam masa renaissance Eropa dan Amerika saat ini. Dewasa ini keadaan sudah terbalik, Eropa dan Amerika justru penyumbang terbesar dalam modernisasi Arab. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Arab kini menjadi rumpun bangsa yang cukup disegani di dunia dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Arab Dulu
Ketika kita mendengar kata ‘Arab’, hal pertama yang terlintas di pikiran kita ialah suatu negeri di bagian barat benua Asia, bersebelahan dengan teluk atau semenanjung arab. Yang terhampar di dalamnya gurun pasir yang sangat luas, cuaca yang sangat panas dan terik, dan kehidupan yang sangat keras bagi makhluk hidup yang tinggal di sana.
            Terbayang pula binatang-binatang tangguh yang kita kenal dengan onta, binatang ini bahkan mempunyai istilah khusus yakni ‘سفينة الصهراء" “ atau ‘kapalnya gurun pasir. Karena binatang ini satu-satunya binatang yang sanggup bertahan hidup lama tanpa air. Dalam kegersangan gurun pasir, terdapat bagian yang subur yang ditumbuhi banyak pepohonan kurma. Suku-suku arab badui hidup secara nomaden, umumnya mereka mencari tempat yang dekat dengan sumber air dan padang rumput. Ada juga yang benar-benar tinggal di gurun pasirnya dengan tenda.
            Sekilas. Gambaran arab yang didominasi oleh gurun pasir, tak mempunyai manfaat dan sumber penghidupan. Hanya ada pasir dan pasir, air yang sangat langka, dan cuaca yang sangat panas. Namun siapa sangka, jauh di bawah timbunan gurun pasir ysng seolah tak bermanfaat itu, ada kekayaan alam yang luar biasa melimpah dan sangat dibutuhkan oleh semua orang yang hidup di bumi ini. Minyak bumi, atau sering disebut sebagai ‘emas hitam’ karena terlalu berharganya bagi manusia, tersimpan rapi dan melimpah di perut bumi tanah arab.
Ketika kita mendengar kata ‘Arab’, hal pertama yang terlintas di pikiran kita ialah suatu negeri di bagian barat benua Asia, bersebelahan dengan teluk atau semenanjung arab. Yang terhampar di dalamnya gurun pasir yang sangat luas, cuaca yang sangat panas dan terik, dan kehidupan yang sangat keras bagi makhluk hidup yang tinggal di sana.
            Terbayang pula binatang-binatang tangguh yang kita kenal dengan onta, binatang ini bahkan mempunyai istilah khusus yakni ‘سفينة الصهراء" “ atau ‘kapalnya gurun pasir. Karena binatang ini satu-satunya binatang yang sanggup bertahan hidup lama tanpa air. Dalam kegersangan gurun pasir, terdapat bagian yang subur yang ditumbuhi banyak pepohonan kurma. Suku-suku arab badui hidup secara nomaden, umumnya mereka mencari tempat yang dekat dengan sumber air dan padang rumput. Ada juga yang benar-benar tinggal di gurun pasirnya dengan tenda.
            Sekilas. Gambaran arab yang didominasi oleh gurun pasir, tak mempunyai manfaat dan sumber penghidupan. Hanya ada pasir dan pasir, air yang sangat langka, dan cuaca yang sangat panas. Namun siapa sangka, jauh di bawah timbunan gurun pasir ysng seolah tak bermanfaat itu, ada kekayaan alam yang luar biasa melimpah dan sangat dibutuhkan oleh semua orang yang hidup di bumi ini. Minyak bumi, atau sering disebut sebagai ‘emas hitam’ karena terlalu berharganya bagi manusia, tersimpan rapi dan melimpah di perut bumi tanah arab.
Sepintas, banyak orang ’ajami atau non arab mengira bahwa suku-suku badui arab terdiri dari orang-orang udik yang berwatak keras dan ganas, juga memiliki cara berfikir dan cara hidup yang sederhana dan serba minimalis. Ternyata di balik watak keras dan ganas serta dalam kesederhanaan mereka dalam cara hidup, terdapat ‘dzauq’ atau ‘passion’ atau selera dan gairah dalam bidang kesusastraan yang mengagumkan.
            Era di mana bangsa-bangsa lain masih terkungkung dalam zaman batu, cara hidupnya masih dengan berburu dan meramu, di saat tulisan masih jauh dari bayangan, masyarakat arab badui sudah sampai pada puncak kesusastraan. Mereka berpikir dan berkarya jauh melesat dibanding bangsa-bangsa lain, namun di era millennium ini malah meninggalkan mereka dalam kemajuan iptek.
Pada zaman jahiliyah mereka berkumpul tiap minggunya untuk memamerkan dan berkompetisi dan untuk bersaing menjadi sastrawan terbaik se-Arab. Biasanya kompetisi ini diadakan di pasar yang dikenal nama pasar Ukaz. Dalam kompetisi ini, puisi terbaik akan digantungkan pada dinding Ka’bah dan ditulis dengan tinta emas. Kumpulan puisi-puisi ini di istilah “Al-Mu’allaqoot” yang artinya ‘yang digantungkan’. Hal ini merupakan kebanggaan yang luar biasa bagi penyair yang puisinya digantungkan pada Ka’bah.
            Di sisi lain, hamparan gurun pasir yang luas ini, adalah tameng bagi masyarakat Arab dari ancaman penjajahan. Di abad pertengahan, pasca renaissance Eropa, negara-negara tropis menjadi sasaran utama jajahan bangsa Eropa. Hal ini dikarenakan negara-negara tropis memiliki hasil bumi yang dibutuhkan bangsa Eropa dan Amerika. Penjajahan ini berlangsung selama berabad-abad lamanya.
            Bangsa penjajah sama sekali tidak melirik tanah arab. Terlebih ketika ketika kandungan hasil bumi di tanah Arab belum ditemukan. Mereka sudah pesimis melihat kondisi alam dan cuaca yang sangat tidak bersahabat. Hal ini menciutkan nyali mereka untuk masuk, berekspedisi dan mengeksplorasi tanah arab.
            Hingga ketika kandungan hasil bumi yang begitu melimpah ditemukan, mulailah ego-ego para bangsa penjajah untuk menguasasi bangsa-bangsa yang mendiami gurun pasir ini. Mulai dari negara-negara arab yang kondisi cuaca dan alamnya tidak terlalu ganas. Sedangkan negara-negara arab yang kondisi alamnya ganas seperti Arab Saudi masih belum tersentuh.
Arab Kini
Bangsa Amerika dan Eropa mulai bias menyentuh Arab Saudi dan beberapa negara arab lainnya melalui jalur diplomatik dan jalinan hubungan bilateral yang jelas. Hubungan bilateral ini terjalin begitu intens dan semakin sering tukar menukar barang dan jasa maupun duta bahkan budaya. Dalam teori kebudayaan, hubungan atau proses ini di istilahkan sebagai Asimilasi.1
            Asimilasi ini menjadi ajang persaingan ego-ego antara dua negara yang terlibat. Ditambah pula dengan arus globalisasi yang sangat deras di era millennium ini memberi pengaruh yang besar terhadap perubahan budaya dan gaya hidup masyarakat arab. Budaya barat ternyata lebih mempengaruhi masyarakat arab disbanding budaya arab yang mempengaruhi masyarakat barat. Peristiwa ini di kenal dengan istilah ‘Westernisasi’2.
            Westernisasi ini sebenarnya tidak hanya menyerang tanah arab, hamper seluruh pelosok atau bagian dunia lain pun terserang virus westernisasi. Baik negara-negara di bagian utara, selatan bahkan timur jauh. Terlebih ketika perkembangan Informasi dan Teknologi atau IT melesat dengan pesat, arus globalisasi semakin tak terbendung.
            Khususnya di negara arab, asimilasi budaya ini hamper tidak jauh berbeda dengan negara-negara di belahan bumi lain. Kehidupan dan gaya hidup serta tata cara pergaulan, secara perlahan namun pasti berubah atau minimal mendekati kehidupan, gaya hidup dan tata cara pergaulan ala barat.
 

1.      Asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan kebudayaannya berhadapan dengan unsur-unsur kebudayaan asing yang lambat laun diterima dan diolah ke dalam budaya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu.
2.      Westernisasi adalah
            Mekkah dan Madinah, mungkin hanya kedua kota suci ini yang terbebas dari westernisasi. Adapun kota-kota lain seperti Riyadh, Jeddah dan kota-kota besar di seluruh semenanjung arab tak ubahnya seperti Los Angeles dan Las Vegas di Amerika.
Tidak hanya dalam ranah budaya, transisi perubahan dan perkembangan masyarakat Arab juga terjadi di ranah politik dan pemerintahan. Misalnya dalam bentuk pemerintahan negara-negara arab yang ada pada awalnya konstitusi kerajaan, kini berubah menjadi bentuk presidential yang banyak diterapkan di negara-negara barat. Pun demikian dengan aturan pemerintahandan hokum pidana perdata,  mengadopsi aturan-aturan barat yang jauh berbeda dengan hukum adat negara-negara arab di masa lalu, apalagi dari hokum dan aturan islam yang menjadi agama resmi dan mayoritas negara-negara arab.
            Arab Saudi dan Yordania adalah dua contoh negara arab yang masih mempertahankan bentuk pemerintahan konstitusi kerajaan di mana raja adalah pemimpin dan pengatur pemerintahan sekaligus. Perpindahan tahta terjaga di lingkungan internal keluarga sang raja itu sendiri. Pola paternalisasi atau jalur ayah atau laki-laki ini sudah diterapkan dihampir semua kerajaan sejak zaman dahulu.
            Adapun bentuk dan aturan pemerintahan dan hukum positif atau hukum yang berlaku di negara-negara Arab yang konon adalah bangsa yang hanya dipenuhi hamparan padang pasir, kini banyak berdiri bangunan-bangunan megah nan modern, serta gedung-gedung pencakar langit. Kini, negara-negara arab khususnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar dan yang lain adalah negara-negara Arab yang maju dan modern. Bukan lagi masyarakat udik gurun pasir.

Daftar Pustaka
Kitab “ القراءة”, سلسلة التعليم اللغة العربية
Kitab الأدب , سلسلة التعليم اللغة العربية
Philipn K Hitti. Dunia Arab Sejarah Ringkas. Bandung: Sumur Bandung (cetakan ke tujuh)
Philip K. Hitti. History of the Arabs. Serambi. Jakarta. 2010 (terjemahan)
Lapidus, M. Ira. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: Rajawali Press.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pandangan Masyarakat Arab terhadap Nilai-Nilai Dasar Kemanusiaan

Pandangan Masyarakat Arab terhadap Nilai-Nilai Dasar Kemanusiaan

Oleh
Ririn Widiyastuti
Mahasiswi Sastra Arab, Universitas Al-Azhar Indonesia


Abstract
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang istimewa. Ia memiliki akal dan hawa nafsu yang saling tarik-menarik setiap saat. Baik dan buruknya tindakan manusia disebabkan mendominasinya salah satu dari dua hal ini. Kemampuan manusia untuk membedakannya memunculkan sebuah nilai. Nilai-nilai inilah yang akan mewarnai kepribadian, peradaban dan kebudayaan masyarakat Arab.
Kata kunci : nilai, manusia, kepribadian
Pendahuluan
Pada hakikatnya, makhluk ciptaan Allah Aza wa Jalla yang diamanahkan menjadi khalifah di muka bumi ini yakni manusia, memiliki berbagai macam keistimewaan tersendiri dalam dirinya yang berbeda dengan makhluk lain. Keistimewaan tersebut adalah akal dan hawa nafsu.
 Tidak seperti malaikat yang hanya memiliki akal yang selalu tunduk dengan perintah Allah Azza wa Jalla, atau seperti binatang yang hanya memiliki hawa nafsu di mana hidupnya hanya untuk memuaskan dirinya saja, manusia memiliki keduanya. Dengan akal, manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah, dan dengan hawa nafsu manusia bisa memutar balikkan keduanya.
Daya tarik-menarik antara akal dan hawa nafsu adalah ciri unik manusia. Bahkan ada perkataan jika manusia mampu mengalahkan hawa nafsu, derajatnya bisa mengungguli malaikat. Juga sebaliknya, jika selalu kalah dan menuruti hawa nafsu, derajatnya bisa turun di bawah derajat binatang.
Kemampuan untuk membedakan baik dan buruk, benar dan salah yang ada dalam diri manusia kemudian teraplikasikan dalam kehidupannya khususnya kehidupan bermasyarakat akan muncullah sesuatu yang disebut dengan nilai. Nilai-nilai ini kemudian disepakati dan diakui demi terjaganya keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai Dasar Kemanusiaan
Dalam menjaga keberlangsungan hidupnya, manusia selalu berfikir dan berinovasi untuk menciptakan lingkungan kehidupan yang baik dan harmonis. Keharmonisasian ini perlu dijaga baik dengan alam maupun dengan sesama manusia agar tercipta keselarasan yang bisa melestarikan apa yang dijaga dan diperjuangkan manusia oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berkenaan dengan usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menjaga keharmonisan baik dengan alam maupun dengan manusia, tejadilah interaksi-interaksi sosial yang dilakukan oleh manusia dengan alam maupun dengan sesama manusia. Dari interaksi-interaksi inilah manusia menemukan sebuah nilai. Nilai adalah sifat dan kualitas yang membuat manusia tertarik kepadanya (Fuad, Fokky:2012).
Seiring berlalunya waktu, manusia menemukan bahwa nilai itu beragam jenisnya. Mulai dari yang dasar. Nilai dasar adalah nilai yang mengandung hakikat intisari atau esensial (Fuad, Fokky:2012). Jadi nilai dasar manusia adalah nilai yang mengandung hakikat intisari manusia, hakikat kebutuhan batiniyah yang ada pada manusia.
Intisari atau esensial jiwa manusia bisa tercermin dalam kepribadiannya. Kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia (koentjaraningrat:2009). Dalam kepribadian ini terdapat tiga unsur yang menjadi intinya, yakni pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri.
Unsur-unsur ini sudah melekat pada manusia dan harus dipenuhi serta tidak boleh ada yang mencegah manusia mendapatkan unsur-unsur ini dalam hidupnya. Apabila unsur-unsur ini tidak terpenuhi maka dapat menghancurkan hidup manusia, baik individual maupun kolektif. Dorongan naluri dapat dicapai dengan pengetahuan, pengetahuan akan menunjukkan bagaimana cara untuk memenuhi dorongan tersebut dengan jalan yang benar sehingga bisa memuaskan perasaannya sendiri dan menjaga perasaan orang lain.

Dari teori nilai dasar manusia inilah Hak Asasi Manusia dibuat. Lahirlah Piagam Magna Charta. Dalam piagam ini disebutkan banyak sekali hak-hak manusia yang harus dijaga oleh semua manusia. Dari lahirnya Magna Charta inilah, dunia mulai menyadari pentingnya HAM bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Untuk bisa menyimpulkan nilai dasar yang ada dalam diri manusia, harus melihat nilai-nilai ini dalam bentuk dua dimensi. Dimensi pertama adalah faktor-faktor pembangun atau pembentuknya, yakni terbentuknya suatu nilai karena adanya 5 hakikat utama pada manusia yaitu hakikat hidup manusia, hakikat karya manusia, hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, hakikat hubungan manusia dengan alam serta hakikat manusia dengan sesamanya (Kluckhon:1962). 

Dimensi yang kedua adalah dari segi bentuknya. Pada dimensi bentuk ini, nilai diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu pertama nilai material (yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia). Kedua nilai Vital (segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk daya untuk mengadakan kegiatan atau aktifitas). Ketiga adalah nilai Kerohanian (segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia). Pada bagian ketiga atau nilai kerohanian, terbagi lagi menjadi empat macam yakni nilai logika (benar yang salah), nilai estetika (nilai indah dan tidak indah), nilai moral (baik dan tidak) dan terakhir nilai religious.

Pandangan Masyarakat Arab terhadap Nilai Dasar Kemanusiaan.

            Kondisi alam di Arab yang tidak bersahabat, telah membentuk karakter dan kepribadian masyarakatnya. Masyarakat Arab memiliki karakter-karakter yang kuat yang berbeda dari bangsa-bangsa lain di seluruh penjuru dunia.
            Pandangan masyarakat Arab terhadap nilai, jika dilihat dari nilai dalam pandangan filsafat :
1.      Logika.
Ukuran benar dan salah dalam masyarakat Arab, sangat dipengaruhi oleh pemikiran mereka yang sudah sangat terkontaminasi dengan kepercayaan-kepercayaan yang mereka anut dari nenek moyang mereka. Khususnya masyarakat Arab pra-Islam. Pada masa islam, tolak ukur tersebut tergeser oleh pandangan islam. Namun, nilai-nilai benar dan salah yang berdasarkan kepercayaan yang dulu masih tetap ada.
2.      Estetika
Ukuran indah dan tidak indah tak luput dari pemikiran mereka yang telah terkontaminasi itu. Khususnya kondisi kehidupan mereka yang sangat minimalis dan primitif. Serta kondisi alam yang monoton membuat daya imajinasi dan estetika mereka juga sangat sederhana. Hal itu terlihat dari arsitektur bangunan yang sangat sederhana, tidak ada hiasan-hiasan apapun, gaya hidup mereka dan isi bait-bait syairyang terbatas hanya pada menggambarkan perasaan mereka terhadap apa yang mereka lihat. Tidak ada cita rasa yang lebih jika dibandingkan dengan arsitektur, gaya hidup bangsa-bangsa lain.
Karya-karya mereka terbatas hanya pada nilai fungsi. Jika itu berfungsi dengan baik, maka berhentilah pekerjaannya. Tidak ada rasa atau keinginan untuk memperindahnya.
3.      Etika
Dalam ranah etika, kerasnya kehidupan yang mereka jalani membuat watak mereka kasar dan keras. Sebagian besar dari mereka pun tidak banyak mengindahkan etika-etika yang berlaku di masyarakat lain. Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan demi mempertahankan hidupnya. Walaupun harus dengan kekerasan bahkan membunuh.
Namun di sisi lain, kerasnya kehidupan membuat mereka saling bersekutu dengan suku lain untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup. Antar anggota suku yang bersekutu memiliki hubungan yang baik dan nilai-nilai etika mulai diperhatikan di ranah ini.


Daftar Pustaka
Fuad, Dr. Fokky, Jumanta Hamdayana, M. Si, Heri Herdiawanto, S. Pd., M. Si. Pancasila, Suatu Analisis Yuridis, Historis dan Filosofis.2012. Jakarta: Hartomo Media Pustaka
Hitty, Philip. History of the Arabs.2010. Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta
Koentjaraningrat, Prof. Dr. Pengantar Ilmu Antropologi.2009. Jakarta: Rineka Cipta.
Sarwono, Sarlito W. Pengantar Umum Psikologi.2003.Jakarta: Bulan Bintang.

Tilaar, Prof. Dr. H. A. R.,dkk. Dimensi-dimensi HAM Dalam Kurikulum Persekolahan Indonesia.2001.Bandung : PT. Alumni

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Masyarakat Arab, antara Pranata dan Budaya


A.   Pendahuluan

Manusia dalam ilmu antropologi dikategorikan dalam homososialis atau makhluk social yang berarti ia tidak bias hidup sendirian. Ia memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Interaksi sosial ini membuat manusia hidup berkelompok-kelompok.
Dalam bukunya “The World Until Yesterday”, Jared Diamond menjelaskan gambaran interaksi social dan mendefinisikan kelompok-kelompok manusia mulai dari keluarga inti, keluarga besar, klan, suku hingga menjadi suatu bangsa. Ia bahkan mendeskripsikan gambaran interaksi social dari berbagai bangsa dan ras di dunia khususnya yang hingga saat ini masih sangat tradisional atau primitif.
Baik masyarakat primitif maupun modern, dari lingkup terkecil yakni keluarga hingga lingkup terbesar yakni bangsa atau ras, semuanya memerlukan aturan. Aturan diperlukan untuk membatasi ego-ego manusia yang berpotensi melanggar hak atau menyakiti orang lain. Aturan-aturan yang berlaku baik tertulis menjadi sebuah hukum yang mengatur hidup mereka. Sedangkan aturan-aturan yang tidak tertulis disebut dengan norma. Kumpulan norma-norma ini menjadi bahan kajian yang dikenal dengan istilah Pranata.
Pembahasan utama tulisan ini adalah Pranata dan Budaya Masyarakat Arab. Arab adalah sebuah bangsa atau ras yang memiliki Pranata yang perlu diketahui oleh masyarakat non arab. Hal ini dikarenakan  saat ini Arab menjadi bangsa-bangsa yang kuat yang ikut bermain dalam politik, ekonomi, sosial dan budaya di dunia. Bahkan Arab adalah penyumbang terbesar dalam kebangkitan Eropa atau dikenal dengan istilah Renaisance.
Dalam buku “Pengantar Hubungan Internasional”, penulis menjabarkan ada beberapa tipe atau kelompok dalam hubungan internasional. Yakni hubungan internasional pemerintah dan non pemerintah. Baik kedua kategori ini di bagi lagi menjadi hubungan internasional antar orang, orang dengan lembaga, lembaga dengan lembaga, lembaga dengan pemerintah dan pemerintah dengan pemerintah. Hubungan Internasional akan terjalin dengan harmonis jika kedua belah pihak saling memahami Pranata dan Budayanya. Untuk itulah, Pranata dan Budaya khususnya Arab sangat perlu dikaji secara holistic dan mendalam.

B.   Pranata
a.     Pengertian Pranata
Menurut KBBI, ‘pranata’ berarti system tingkah laku social yang bersifat resmi secara adat istiadat dan norma yang mengatur tingkah laku itu, dan seluruh perlengkapannya  guna memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang kompleks di masyarakat.
Dalam sumber lain (yakni bahan ajar di Al-Azhar) disebutkan ada tiga pengertian dari pranata yakni:
·         Suatu sistem tata norma dan tata hubungan perilaku anggota masyarakat yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi.
·         Pranata (institusi) yang mengatur kegiatan masyarakat secara khusus.
·         Pranata juga disebut institution.
Dari kedua pengertian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pranata adalah tatacara untuk mengatur dan mengendalikan ego manusia agar tercipta hubungan masyarakat yang harmonis.
b.    Bentuk Pranata
                                                          i.      Tertulis
Pranata yang berkembang dan berkaitan erat dengan hak, kewajiban dan sanksi jika ada pelanggaran ini ditulis dalam sebuah media, agar bisa diingat, dijaga dan dijalankan oleh generasi-generasi berikutnya menjadi sebuah hukum tertulis. Contohnya : UU Dasar, UU resmi yang berlaku.
                                                        ii.      Tidak Tertulis
Adapula aturan-aturan lain yang berlaku namun tidak ditulis sehingga tidak terjaga bahkan terancam hilang jika terjadi akulturasi budaya. Contohnya : hukum adat, mitos dan yang lainnya.

c.      Macam-macam Pranata
Macam-macam pranata ini tergantung pada :
1.      Sederhana atau kompleksnya suatu masyarakat.
2.      Penggolongan berdasarkan fungsi-fungsinya untuk memenuhi kehidupan.
d.    Tujuan Pranata
Tujuan adanya pranata ialah untuk memahami perilaku suatu masyarakat melalui aturan dan norma yang berlaku pada mesyarakat tersebut.

C.   Budaya
a.     Pengertian Budaya
Dalam bahasa Sansekerta, budaya berasal dari kata Buddayah jamak dari Buddhi yang berarti budi atau kekal. Dalam bahasa latin disebut colere yang berarti mengolah, mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan tanah atau bertani.
Sedangkan menurut para budayawan budaya memiliki arti seperti berikut :
1.      Koentjaraningrat (1996):“Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar”
2.      Clifford Geertz  (1973):
“Disimpulkan berdasarkan pendapat Clyde Kulckhon bahwa kebudayaan adalah: total cara hidup manusia; warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya; cara berpikir-cara merasakan dan keyakinan; abstraksi dari perilaku; endapan sejarah; seperangkat teknik untuk menyesuaikan diri baik dengan lingkungan eksternal maupun orang lain; seperangkat teori menjelaskan tentang cara berperilaku sekelompok orang atau individu yang sesungguhnya”
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat di ditarik garis besarnya bahwa budaya atau kebudayaan adalah produk dari keberhasilan mengatur dan mengendalikan ego, ego selalu diarahkan ke arah positif.
b.    Wujud Kebudayaan
Dalam penerapan budaya menjadi sebuah kebudayaan yang dapat berbentuk :
1.      Ide/gagasan.
2.      Artefak
3.      Perilaku


D.   Pranata dalam Masyarakat Arab
Hampir semua kawasan yang didiami oleh suatu bangsa atau ras memiliki Pranata dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini dapat dipengruhi oleh kondisi alam dan tujuan atau fungsi dari pranata ini. Khususnya daerah Arab yang didominasi oleh gurun pasir, sehingga jauh dari bangsa atau ras lain membuat masyarakat Arab seolah terkungkung di dalamnya dan tidak atau jarang ada interaksi social dengan bangsa lain.
 Kondisi ini membuat Arab memiliki ciri khas pranata yang sangat berbeda dengan bangsa lain. Diantaranya :
a.      Pranata Kehidupan Kekerabatan (kinship)
1. Perkawinan masa sebelum Islam : Perkawinan berlangsung dengan restu orang tua dan pada umumnya wanita dimintai pendapatnya.
2. Perceraian (talak) : Berlangsung di kalangan Arab, talak dilakukan oleh laki-laki, tapi di kalangan wanita terpandang mereka yang menjatuhkan talak dengan cara mengubah letak pintu.
3. Poligami : Beristri lebih dari satu merupakan berlaku umum di kalangan masyarakat Arab dengan jumlah yang tidak terbatas. Islam membatasinya dengan syarat-syarat yang ketat.
4. Hubungan antar Keluarga : Orang tua mendidik anak dengan keras agar mampu menghadpi kerasnya kehidupan di gurun pasir yang ganas, orang tua memberi nama-nama yang bisa menggentarkan musuh (singa: أسد   banteng:  ثور  macan tutul : فهد), anak laki-laki lebih disukai karena bisa berburu dan perang.
5. Mengubur anak perempuan hidup-hidup : hal terjadi karena orang Arab malu jika mendapat anak perempuan, dan takut akan kemiskinan atau susahnya menghidupinya karena sulitnya mencari rizki di gurun pasir.
6. Hubungan kekerabatan Badui : istilah badui berarti penduduk desa yang hidupnya nomaden, dewasa ini banyak badui yang pindah ke kota besar. Masyarakat arab pada umumnya masih merasakan nilai-nilai badui yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, terutama yang masih terdokumentasikan dalam kumpulan syai’ir atau prosa masa jahiliyah.
7. Susunan Masyarakat Badui : Keluarga besar (Clan), sebuah kemah berisi satu keluarga, 10 kemah disebut suku, anggota-anggota suku dinamakan kaum, gabungan beberapa keluarga besar dinamakan kabilah, tiap keluarga besar memilih syaikh kabilah.
8. Solidaritas Kesukuan : kerasnya kehidupan menuntut seseorang, keluarga, suku dan kabilah untuk bertahan hidup. Untuk itu diperlukan solidaritas yang kuat diantara mereka. Solidaritas ini sangat diperlukan dalam mencari kebutuhan hidup dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Dengan persekutuan antar suku, setiap individu atau suku akan terjaga.
9. Nilai-nilai Moral Masyarakat Arab : Diantara keutamaan-keutamaan moral masyarakat arab adalah : pemurah/dermawan, suka menerima tamu, berani, suka pada kebebasan, dan setia.
b.      Pranata Pendidikan (educational institutions)
Mayoritas dari pencinta ilmu adalah kalangan ‘Ajam atau non arab seperti Persia. Pada saat itu bahasa Arab menjadi bahasa komunikasi. Kemajuan ilmu pengetahuan mencapai puncaknya pada masa Abbasiah disebabkan oleh :
-          Kekayaan yang melimpah, mata pencaharian yang popular dan menjanjikan saat itu adalah berdgang.
-          Khalifah sangat mendukung perkembangan keilmuan ini bahkan ia menjadi teladan bagi masyarakat umum.
-          Mulai didirikannya lembaga-lembaga pemerintahan baik formal maupun non formal seperti kuttab, madrasah, halaqah-halaqah keilmuan khusus atau spesifik, baytul hikmah.

c.       Pranata ilmiah (scientific Institutions)
Dalam ranah ilmiah, khususnya bidang ilmu Eksak berkembang pesat pada zaman Abbasiyah khususnya pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid. Pada masa ini terdapat pusat-pusat keilmuan dan banyak kegiatan ilmiah di dalamnya seperti :
                                                           i.      Islam bagian Timur (al-masyriq) : Baghdad, Basrah, Kufah, dan Damaskus.
                                                         ii.       bagian Barat: Andalus (Spanyol), Kordova : tempat berkumpul penyair, filsuf, penerjemah dan fuqaha`
                                                       iii.      Dalam Baytul Hikmah juga sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan ilmiah seperti : biro penerjemahan dan perpustakaan umum, mempelajari astronomi dan lainnya.

d.      Pranata Politik  (Political Institutions)
Kepemimpinan dalam suatu Kabilah. Suatu kabilah (clan) dipimpin oleh Syaikh yang dipilih karena:
•      Paling tua (senioritas)
•      Paling kaya
•      Paling banyak anggota keluarganya
•      Berani
•      Pemurah

E.   Budaya / Kebudayaan Masyarakat Arab

Masyarakat Arab yang tinggal jauh terpisah dari bangsa lain dan seolah terkungkung dalam hamparan gurun pasir yang seolah tak bertepi, kondisi alam yang begitu keras membuat mereka hidup dengan keras. Situasi ini mempengaruhi tata cara berfikir dan tingkah laku masyarakat Arab.
Cara hidup mereka yang berkelompok-kelompok dan berpindah-pindah membentuk kepribadian, adat dan budaya khas Arab. Budaya yang ada di masyarakat arab ada yang bersifat positif dan negatif.
a.      Budaya Arab yang Positif
Contoh dari budaya arab yang positif adalah :
-          Pemberani
-          Pemurah / Dermawan
-          Suka menerima tamu
-          Solidaritas Kesukuan yang kuat.
-          Memiliki dzauq kesusastraan yang kuat.
-          Memiliki hafalan atau ingatan yang kuat
-          Memiliki rasa kesetiaan yang tinggi.
-          Membela dan menolong orang yang meminta perlindungan.

b.      Budaya Arab yang Negatif

Adapun budaya-budaya negative di masyarakat Arab adalah :

-          Suka mabuk-mabukan.
-          Suka main perempuan.
-          Anak laki-laki lebih disukai karena bisa diperbantukan untuk berburu dan berperang.
-          Mengubur anak perempuan karena malu.
-          Membunuh anak baik laki-laki maupun perempuan karena takut miskin.
-          Suka berperang untuk mempertahankan wilayah atau sekedar menunjukkan eksistensi.
-          Suka melacurkan budak perempuan.
-          Menyukai kebebasan (tidak suka diatur)
-          Nikah Istibdha’ (jika istri dari salah seorang lelaki di antara selesai haid kemudian telah bersuci maka lelaki termulia dan paling bagus nasabnya dan tata kramanya boleh meminta wanita tersebut untuk disetubuhi dalam kurun waktu yang memungkinkannya melahirkan anak yang mewarisi sifat-sifat positif lelaki yang memintanya tadi)
-          Fanatisme Golongan
Daftar Pustaka

1.      Pusat Bahasa Depdiknas.2007.Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat).Jakarta: Balai Pustaka
2.      Masyarakat Arab dan Budaya Islam
3.      Banyu Perwita, M. Yani. 2005.Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.Bandung : Remaja Rosdakarya
4.      Koentjaraningrat. 2009.Pengantar Ilmu Antropologi.Jakarta:Rineka Cipta
5.      Diamond, Jared.2010. The World Until Yesterday.
6.      Bahan ajar mata kuliah Pranata Al Azhar (power point)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Followers

Search

Pages

Blogger templates

Blogger news

Social Media Sharing by CB Bloggerz

Visitors

AmazingCounters.com

Blogroll

BlogBlogs

Listen to Quran