Struktur Pengurus IMASASI Wilayah III
23:44 |
STRUKTUR KEPENGURUSAN
IKATAN MAHASISWA STUDI ARAB SE-INDONESIA
(IMASASI) WILAYAH III
DEWAN
PELINDUNG:
Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Studi
Arab se-Indonesia (IMASASI)
DEWAN
PENASEHAT:
Dr. Budiansyah
KETUA:
M.Afifi
Abdullah
WAKIL KETUA:
Azka Zaki
Mustafa
SEKRETARIS:
Syahril Sahiby
Nursyilfiyah
BENDAHARA:
Nur Amelia
Mutia Rifa
BIDANG ADMINISTRASI UMUM
KepalaBidang:
Eva Muzdalifah
Anggota:
Nindi
BIDANG PENELITIAN DAN
PENGEMBAGAN
KepalaBidang:
RirinWidiyastuti
Anggota:
Putri Nurbaiti
BIDANG DANA DAN USAHA
KepalaBidang:
RaedahHaq
Anggota:
Hamsyi Hamidah
BIDANG KADERISASI
KepalaBidang:
Caskyman
Anggota:
Alif
Husein Umkabu
BIDANG BAHASA DAN
BUDAYA
KepalaBidang:
AnggaAulia
Jaya
Anggota:
Ariadna Ayu Miranda
BIDANG HUBUNGAN
MASYARAKAT
KepalaBidang:
Virina
Anggota:
Ivan Ramdani Chandra
23:40 |
KEPUTUSAN
PENGURUS WILAYAH IKATAN
MAHASISWA STUDI ARAB SE-INDONESIA (IMASASI)
NOMOR:
01 TAHUN 2015-05-31
TENTANG
PENGUKUHAN
PENGURUS IKATAN MAHASISWA STUDI ARAB SE-INDONESIA (IMASASI)
MASA
BAKTI 2015-2016
Menimbang:
1.
bahwa pengurus Ikatan Mahasiswa Studi
Arab se-Indonesia (IMASASI) Wilayah III masa bakti
2015-2016 terpilih perlu dikukuhkan dengan Keputusan Pengurus Ikatan Mahasiswa Studi Arab
se-Indonesia (IMASASI) Wilayah III.
2.
bahwa
nama-nama
yang tercantum dalam lampiran Keputusan ini dianggap mampu dan memenuhi
syarat untuk diangkat dan dikukuhkan sebagai pengurus Ikatan Mahasiswa
Studi
Arab se-Indonesia (IMASASI) Wilayah III masabakti 2015-2016.
Mengingat:
1.
Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.
Peraturan Pemerintah Nomor
17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
3.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 155/U/ 1998
tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.
4.
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan
Islam Departemen Agama R.I nomor : DJ.I/253/2007 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi
Agama Islam.
Memperhatikan:
Surat Ketua Ikatan Mahasiswa Studi Arab se-Indonesia (IMASASI) Wilayah III Nomor
Istimewa tanggal 31Mei2015
perihal Permohonan SK Pengurus Wilayah.
M
E M U T US K A N
Menetapkan: KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT TENTANG PENGUKUHAN
PENGURUS IKATAN MAHASISWA STUDI ARAB SE-INDONESIA (IMASASI) Wilayah III MASA
BAKTI 2015-2016.
Pertama:
Mengukuhkan Pengurus Wilayah Ikatan Mahasiswa Studi Arab se-Indonesia (IMASASI) Wilayah
III masa bakti 2015-2016 dengan susunan personalia sebagaimana tersebut di lampiran ini.
Kedua:
Keputusan
ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila terdapat
kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
DITETAPKAN
DI :JAKARTA
PADA
TANGGAL: 31 MEI 2015
KETUA UMUM
FUTUHI
TENTANG
PENGUKUHAN PENGURUS
IKATAN
MAHASISWA STUDI ARAB SE-INDONESIA (IMASASI) Wilayah III MASA BAKTI 2015-2016
Wayang, Kajian Kebudayaan
19:26 |
1. Kajian Kebudayaan
A. Wayang sebagai artefak budaya.
Salah satu wujud
dari kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah artefak atau benda fisik. Di
sini kita melihat wayang adalah hasil kerajinan tangan masyarakat pada saat itu
dan mencerminkan kecerdasan mereka dalam mendesain wayang-wayang yang unik
bahkan ada beberapa yang mirip dengan aslinya. Mereka bahkan menggunakannya
sebagai hiburan, prasasti untuk orang-orang yang mereka agungkan, bahkan
melahirkan karya sastra tertulis (cerita, novel dll) menggunakan media wayang
atau mengambil inspirasi dari salah satu tokoh wayang. Dan dibeberapa suku
menggunakannya dalam upacara-upacara adat (pernikahan, kematian, ritual agama
dll) dan lambat laun ini membudaya hingga kini.
B. Wayang bukti Asimilasi Budaya.
Koleksi-koleksi
wayang yang ada di museum ini secara tidak langsung mencerminkan proses
asimilasi budaya pada masyarakat di masanya. Asimilasi dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia berarti “penyesuaian” atau “peleburan”. Dalam istilah
di kebudayaan bab pengenalan budaya asing berarti “Proses sosial yang
terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang
berbeda setelah mereka bergaul secara intensif sehingga sifat khas dari
unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu berubah menjadi unsur-unsur
kebudayaan campuran”.
Asimilasi pada
wayang ini terbukti dengan adanya wayang bertema Belanda dan China. Keberadaan
wayang dengan ciri khas kedua negara tersebut menunjukkan adanya kehadiran
mereka di nusantara ini. Wayang pada umumnya berbentuk khas masyarakat
nusantara. Namun ketika zaman kolonialisme belanda yang berlangsung dalam kurun
waktu yang lama kurang lebih 3,5 abad memungkinkan terjadinya asimilasi budaya.
Bahkan mungkin asimilasi tidak hanya dalam bidang budaya. Begitu pula dengan
adanya wayang bertema China, menandakan bahwa masyarakat China sudah menjalin
hubungan dengan Indonesia dan berimigrasi untuk selanjutnya hidup bersama
masyarakat pribumi, dan proses asimilasipun terjadi.
C. Wayang sebagai Media Dakwah Islam.
Islam masuk ke
nusantara di awal abad ke-14 dimana pada saat itu pengaruh agama hindu - budha,
kepercayaan animisme - dinamisme masih sangat kuat. Tentu akan sulit mengislamkan
mereka jika tidak melalui pendekatan budaya setempat. Salah satu pendekatan
budaya yang dipakai oleh ulama-ulama nusantara khususnya di pulau jawa adalah
melalui kesenian wayang dan metode dakwah ini terbukti sangat efektif. Dalam
pementasan wayang, masyarakat disyaratkan untuk mengucapkan kalimat syahadat,
dengan ini masyarakat terislamkan tanpa mereka sadari. Lalu dalam pementasannya
dimasukkan nilai-nilai keislaman dalam ceritanya yang dapat dengan mudah
dicerna masyarakat sehingga masyarakat dapat menerima lalu berkeinginan belajar
islam lebih dalam hingga mereka menerima dan mengakui islam sebagai agamanya.
Walisongo atau
Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad
ke-17. Mereka
menyebarkan agama islam menggunakan berbagai sarana..Salah satu sarana yang mereka
gunakan sebagai media dakwah mereka adalah wayang.
Kesenian wayang kulit telah
mendarah daging pada masyarakat Indonesia (khususnya Jawa dan Bali) sehingga
sulit untuk menghilangkan dan menggantinya dengan kebudayaan Islam. Karena
kesulitan untuk menghilangkan sesuatu yang telah melekat di dalam hati, maka
para Wali Songo tidak kehilangan akal. Agar dakwah yang mereka lakukan berjalan
lancar, maka salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan cara memasukkan
ajaran Islam ke dalam pertunjukan wayang kulit.
Sunan Kalijaga mementaskan Wayang kulit dengan cerita dan dialog sekitar Tasawuf dan akhlaqul karimah, untuk melemahkan masyarakat yang pada waktu itu beragama Hindu dan Budha yang ajarannya berpusat pada kebatinan. Pada masa itu saat Majapahit masih cukup berkuasa, Sunan Kalijaga berusaha memasukan unsur-unsur Islam yang kompleks dalam kisah pewayangan yang sudah mendarah daging di kalangan penduduk Majapahit. Dengan melakonkan cerita Mahabarata, para mubaligh dapat memasukkan unsur-unsur sendi kepercayaan atau aqidah, ibadah dan juga akhlaqul-karimah. Sehingga pada masa itu wayang dijadikan sebuah alat metode dakwah Islam oleh para wali dan mubaligh dengan tujuan supaya pengikut agama Islam bertambah banyak khususnya di wilayah Jawa.
Dalam hal esensi yang
disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral
ke-Islaman. Dalam lakon Bima
Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya
Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala
isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya
kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut
ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.
Mitos atau Legenda Museum Wayang.
19:23 |
Bangunan Museum
Wayang termasuk bangunan lama yang dibangun sejak zaman kolonialisme Belanda
tepatnya tahun 1640. Selama kurun waktu 4 abad lebih ini tentu banyak
peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya dan kini menjadi legenda. Bangunan
lama identik biasanya identik dengan cerita misteri. Pun dengan Museum Wayang,
bangunan ini juga memiliki hal tersebut. Suasana yang remang-remang di beberapa
ruangan semakin menguatkan kesan horror di museum ini.
Informasi yang
kami dapatkan dari wawancara dan artikel terkait, menyatakan bahwa banyak
kejadian ganjil yang dialami oleh pengunjung maupun karyawan penjaga museum.
Diantara beberapa cerita mistis dan mitos dari Museum Wayang ini adalah sebagai
berikut :
1.
Keangkeran
awal dimulai dengan adanya makam mantan pendiri Batavia yakni Jan Pieter Zoon
Coen, walaupun makamnya sudah dipindahkan namun kesan keangkeran masih terasa
kuat.
2.
Adanya
beraneka ragam cerita hantu yang berkaitan dengan kenangan masa kolonialisme
Belanda karena bangunan ini warisan dari mereka. Diantara cerita hantu tersebut
adalah :
a.
Ada
figure raksasa yang tingginya hampir menyentuh langit-langit ruangan.
b.
Sering
terdengar suara serdadu Londo (sebutan untuk orang Belanda) berbaris lengkap
dengan aba-aba komando berbahasa Belanda.
c.
Banyak
terdengar suara-suara tidak jelas, ringikan suara kuda, dan masih banyak yang
lainnya.
3.
Para
karyawan terkadang diganggu oleh sosok anak kecil dan wanita noni Belanda
bergaun merah dan sosok wanita dengan muka yang rusak.
4.
Para
pengunjung pun kadang juga diganggu dalam bentuk kesurupan karena memegang
benda-benda koleksi di museum.
5.
Sering
terdengar suara-suara geseran peti-peti wayang.
6.
Beberapa
koleksi wayang pun juga banyak menyimpan hal-hal mistis seperti sering
bergerak-gerak sendiri seperti wayang si gale-gale dari sumatera. Dan ada
wayang dari cina yang malah tidak bisa dipindahkan walaupun dengan tenaga
beberapa orang.
Kajian Tema Museum dengan Teori Kebudayaan.
19:01 |
Selama
kunjungan di Museum Wayang ini, kami mendapati beberapa tema museum baik dari
tema umum maupun tema-tema koleksi yang sesuai dengan teori-teori kebudayaan.
Adapun teori-teori kebudayaan yang kami gunakan adalah sebagai berikut :
a. Teori Koentjaraningrat (1996):
“Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta
karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan
miliknya dengan belajar”
Dan wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah :
-
Artefak
atau benda fisik.
-
Sistem
tingkah laku dan tindakan berpola.
-
Sistem
gagasan yang berpola atau ideologis
b. Teori Clifford Geertz (1973):
“Disimpulkan berdasarkan pendapat Clyde Kulckhon bahwa kebudayaan
adalah:
total cara hidup manusia; warisan sosial yang diperoleh individu
dari kelompoknya; cara berpikir-cara merasakan dan keyakinan; abstraksi dari
perilaku; endapan sejarah; seperangkat teknik untuk menyesuaikan diri baik
dengan lingkungan eksternal maupun orang lain; seperangkat teori menjelaskan
tentang cara berperilaku sekelompok orang atau individu yang sesungguhnya”
Lebih rincinya kebudayaan menurut Clifford Geertz adalah :
Historis: bawaan sosial
atau tradisi yang melewati generasi masa lalu kepada generasi masa depan.
Perilaku: sesuatu yang
dibagikan, perilaku manusia yang dipelajari, cara pandang manusia tentang
kehidupan.
Normatif: ide-ide
nilai-nilai atau aturan tentang kehidupan
Fungsional : cara manusia
memecahkan masalah lalu diadaptasikan ke dalam lingkungan dimana mereka hidup
bersama.
Struktural: keteraturan
pola gagasan, simbol atau keteraturan perilaku yang saling terkait satu sama
lain.
Mental: Kompleks
ide-ide atau kebiasaan belajar yang dapat membedakan anatara manusia dan
binatang.
Simbolis: pendasaran
makna yang ditetapkan bersama oleh masyarakat.
Dari hasil penelitian, kami
menyimpulkan bahwa tema umum dari Museum Wayang adalah Koleksi Artefak. Artefak
yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah benda-benda yang menunjukkkan
kecakapan kerja manusia (terutama pada zaman dahulu). Jadi wayang adalah salah
satu artefak kebudayaan Indonesia karena ia adalah hasil kecakapan manusia
Indonesia pada zaman dahulu bahkan
hingga sekarang (nilai historis).
Wayang tidak hanya menunjukkan
kecakapan saja namun ia juga refleksi dari gambaran keadaan masyarakat setempat pada masa itu(nilai historis
dan perilaku). Misalnya pada ruangan ketiga dimana semua koleksi wayang
bertemakan Batavia, wayang-wayang
tersebut adalah miniatur orang-orang Belanda. Lalu diruangan selanjutnya
terdapat wayang yang bertema Etnis China dimana wayang-wayang tersebut
menggambarkan masyarakat tionghoa yang tinggal di Indonesia. Hal ini merupakan
salah satu wujud terjadinya proses asimilasi budaya antara negara asing dengan
Indonesia.
Adapula wayang yang merupakan
refleksi dari adat dan budaya setempat (nilai simbolis) adalah
wayang gale-gale dari Sumatra. Tradisi masyarakat sumatera salah satunya adalah
apabila ada laki-laki yang meninggal tanpa meninggalkan keturunan maka ia akan
di perlakukan berbeda dalam pemakamannya. Dan contoh penampilan sebelum di
makamkan ditampilkan sebagai bentuk wayang dimana ini menjadi salah satu
koleksi Museum Wayang.
Tradisi pernikahan, misalnya pakaian
adat pernikahan khas beberapa suku juga ditampilkan disini. Tradisi hiburan
masyarakatpun juga melengkapi koleksinya. Seperti wayang gundala-gundala yang
fungsinya sama dengan ondel-ondel yaitu untuk hiburan masyarakat dan untuk
penyambutan tamu-tamu penting.
Tokoh-tokoh penting dan terkenal
dalam suatu suku juga dibuatkan artefaknya dalam bentuk wayang boneka seperti
si Pitung yang merupakan tokoh pahlawan
masyarakat betawi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Followers
Search
Popular Posts
Pages
Blogger templates
Blogger news
Social Media Sharing by CB Bloggerz









